May 16, 2022

Nah kali ini saya mau sharing dimana dulu ketika menjalankan usaha konveksi saya dulu mengalami sebuah kesulitan berkembang, funelling saya devotegarment.com pun akhirnya saya biarkan karena sebenernya sudah saya optimasi, akan tetapi SDM yang kurang memahami konsep berkembang dan berkelanjutan akhirnya team yang saya bangun tidak bisa berkembang. saya simpulkan beberapa point.

  • Tidak mengerti konsep berkelanjutan dan kolaborasi
  • Tidak mengerti atau tidak tahu kolaborasi
  • Kebutuhan rumah tangga
  • Perang harga dilingkungan yang tidak mendukung

Nah itulah beberap point yang yang terjadi ketika ada didunia konveksi sehingga tidak bertumbuh, hampir semua lingkungan yang saya temui ketika banyak order belum bisa menjamin bertumbuh bahkan dikemudian hari bahkan ada yang tutup dan ganti profesi, walaupun saya saat ini memang tidak melakukan proses bisnis dikonveksi 100% saat ini saya sedang merubah cara berbisnis konveksi supaya tumbuh dan bertumbuh.

Nah kisah ini hampir sama dengan seorang pengusaha yang menceritakan kisahnya hancur karena perang harga, akan tetapi bedanya dengan saya posisi beliau sudah bertumbuh dan memiliki aset digital sehingga ketika jatuh masih ada aset digital yang digerakkan untuk menunjang bisnis, berikut kisahnya.

=======================================================================

Rugi hingga ratusan juta. ini pertama kalinya saya menulis di Quora. Tahun 2016 kami mulai berjualan di marketplace, toko Ijo dan Lz. Waktu itu berjualan sprei dan bed cover. Dua tahun pertama pertumbuhannya cukup menggembirakan. Saya yang tadinya hanya mengelola bisnis ini berdua sama istri akhirnya bisa meng-hire karyawan beberapa orang. Dari yang tadinya hanya dropshipper (tidak stok barang) akhirnya sedikit-sedikit mulai berani punya stok sendiri untuk perpuratan sekitar sebulan.

Karena dirasa perputaran dari produk sprei sudah cukup bagus dan mandiri (hasil usaha bisa buat men-cover cost) akhirnya kami langsung tancap gas dengan membuka toko baru dengan produk yang berbeda. Puncaknya pada 2019, dari beberapa toko kami di  marketplace setiap hari kami bisa menghandle pesanan hingga ribuan.

Foto saat pesanan toko kami pada 2019 lalu. Pernah sampai begini.

Moment itu membuat semangat kami semakin membara hingga tahun itu kami pergi ke China untuk berbelanja barang di Yiwu yang terkenal itu. Kami mengimport sendiri, demi memperlebar margin dari yang sebelumnya hanya mengambil dari supplier lokal.

Foto waktu pergi nyari dagangan ke China

Moment yang begitu bagus membuat kami lengah dalam mengevaluasi dan merasa jumawa. Seolah semua langkah kami adalah langkah yang tepat.

Saya ingat waktu itu pernah ngobrol dengan rekan bisnis yang mana penjualannya tidak terlalu banyak. Lalu dengan PD-nya saya memberikan masukan begini :

“Aku cek di tokomu beberapa harga kemahalan lho. Mungkin itu yang membuat akhirnya tokomu sepi. Kenapa tidak mengikuti arahan campaign yang direkomendasikan oleh platform tersebut sehingga tokomu semakin bergairah?”

Kemudian dia menjawab :

“Produk yang aku display itu sebenarnya hanya buat link penjualan yang mana customernya masih dari database internal kami. Jadi kalau ada orang luar yang beli ya syukur. Aku tidak tertarik dengan strategi perang harga karena omset itu akan berbanding lurus dengan cost. Jadi apa artinya omsetmu naik kalau cost-mu juga naik sehingga membuat bisnismu jadi ngos-ngosan?”

Jujur pada saat itu saya masih bingung. Namun perkataannya selalu terngiang dibenakku. Hingga pas suatu saat kami sadar bahwa stragegi kami saat itu sangat berisiko.

Problem bermula

Bagi yang berjualan di marketplace tentu tahu bahwa kalau mau traffict di tokonya banter kudu mengikuti campaign-campaign yang direferensikan oleh platform melalui akun seller centernya. Hingga 2019 kami ikuti semuanya makanya tidak heran kalau traffict toko kami cukup tinggi. Jujur sih ada beberapa produk yang marginnya sudah mepet banget sampai saat ketika ikut campaign kadang sampai jual rugi. Pikirku itu masuk dalam anggaran promosi. Namun ternyata hal itu seperti candu yang membuat kami ketagihan.

Orientasi kami seperti bergeser dari yang tadinya profit oriented menjadi traffict oriented. Pikirku akan mengikuti langkah startup yang mana pertama-tama pengunjung banyak dulu sehingga merasakan experience saat berbelanja di toko kami. Bahkan pernah kami sampai ikut campaign Rp 1,- (Satu rupiah). Barang yang kami beli dengan modal 5k/pcs kami jual dengan Rp 1. Efeknya, nggak sampai 5 menit stok 3000pcs habis terjual.

Dari sinilah kata-kata teman saya mulai terbukti. Kami harus melemburkan karyawan, modal packaging, kertas buat print resi, catritge printer jebol karena buat print resi hingga ribuan ditambah modal utama untuk belanja barang tersebut. Dan itu memberikan pelajaran yang sangat berharga buat kami. Traffict toko naik hanya sesaat itu saja, namun setelah itu kembali seperti semula lagi.

Setelah kejadian itu tingkat loyalitas kami terhadap platform tersebut betul-betul kami kurangi. Tidak semua ajakan campaign yang sifatnya “bakar duit” kami ikuti. Akhirnya lambat laun toko kami traffict-nya semakin menurun. Ditambah pandemi tahun pertama yang membuat daya beli juga menurun drastis.

Banyak produk yang tadinya laris manis akhirnya sepi karena algoritma platform tidak lagi merekomendasikan produk kami baik di pencarian populer, produk terlaris maupun harga termurah. Semua seller di Marketplace tahu itu. Kalau produk tidak sampai muncul di 3 variabel pencarian tersebut jangan harap akan laku. Karena bagi algoritma marketplace produk yang banyak dilihat dan kemudian banyak dibeli maka (akan dianggap) produk yang bagus. Nah perjalanan untuk menuju kesitulah yang sebenarnya banyak lika-liku serta intriknya. Ada yang hambur Ads di dalam platform, tekan harga sampai udah mepet modal, nuruti semua referensi aksi “burning” dari platform, bahkan sampai ada yang bayar influencer dan masih banyak lagi. Uang ludes udah pasti, namun omset penjualan belum tentu sesuai espektasi. Akibatnya banyak terjadi blunder disini

Kerugian terbesar adalah ketika banyak stok barang yang mandek, dan itu banyak banget jumlahnya. Ditambah sewa gudang yang harus diperpanjang hanya demi membiayai stok barang mati. Namun saya tetap kekeuh tidak mau lagi bakar duit disana. Padahal sudah ada 2 toko kami di Ijo yang peringkatnya GOLD, dan beberapa toko di Laz yang sudah sempat level 7 dan peringkat 1 untuk kategori tersebut. Dimana itu adalah level tertinggi untuk seller personal. Diatas itu kategorinya sudah LazMall.

Waktu itu saya penasaran aja sih gimana rasanya berada di puncak? Benar kalau pas acara gathering sering impact di panggung dengan tepuk tangan dan sorak sorai. Namun ternyata semua hanya fatamorgana. Capek iya dan profit tidak sebanding dengan fix cost.

Sekarang kami benar-benar tegas. Produk yang marginnya nipis meski laris langsung kami takedown atau di SALE dengan harga sangat murah (kebanyakan dibawah harga modal) demi sekadar buat habisin stok. Hanya produk dengan margin yang masih layak saja yang tetap kami pertahankan. Traffict toko saat ini mungkin hanya 20%-nya dari dulu saat masih rame-ramenya. Namun secara bisnis kami semakin sehat, karena dengan semakin sedikit staf biaya gaji karyawan jadi lebih rendah, sewa gudang juga bisa dikurangi, tidak terlalu banyak spend modal yang berisiko jadi barang mandek, dengan begitu cashflow kami semakin sehat. Karena meski omset turun secara persentase margin angkanya naik serta fix cost yang bisa ditekan jauh.

Namun efek dari semua itu masih kami rasakan hingga saat ini. Masih cukup banyak stok mandek yang sudah kami tawarkan kesana-sini belum juga terjual. Hal itu menyebabkan tidak sedikit modal kami yang susah liquid karena masih jadi barang. Kami sampai harus menjual beberapa mobil sekedar buat mem-backup fix cost yang tidak bisa ditolerir seperti cicilan rumah.

Oh iya ada yang lupa. Kami berani terkesan brutal bakar duit di awal-awal karena pada saat itu ada sektor bisnis kami yang lain yang masih sehat. Sehingga kerugian tidak terlalu kami hiraukan karena masih ada “subsidi” dari sektor lain. Namun ketika sektor itu juga terhantam pandemi maka lengkaplah sudah. Kami seperti terkena pukulan upper-cut yang telak dan membuat kami sempoyongan.

Dari situ saya semakin sadar bahwa formulasi sesempurna apapun ada masanya. Strategi yang kita terapkan tahun lalu belum tentu masih relevan saat ini. Sehingga mau tidak mau kita harus terus mengupdate, berakselerasi dengan waktu dan berkompetisi dengan pemain-pemain baru yang lebih kreatif dan mungkin lebih nekat. Begitulah sekelumit kisah kami sebagai seorang pedagang. Terima kasih telah membaca hingga akhir. Salam..

============================================================

Sumber : “Bagaiamana Rasanya rugi ratusan juta oleh Agus Daisuke

Nah itulah kisah yang hamppir sama seperti saya alami cuma beliau lebih besar dan banyak hikmahnya untuk diambil ilmunya, jadinya kisah beliau lebih pantas untuk saya publikasikan. tetap Semangat !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.